Jumat, 28 Oktober 2011

Cegah dan Atasi Diabetes dengan Serat Makanan

cegah-Cegah dan Atasi Diabetes dengan Serat MakananDiabetes : Takdir
Apakah benar mitos yang menyatakan bahwa diabetes adalah takdir? Sebagian dari Anda mungkin telah mengetahui bahwa penyakit diabetes ada dua jenis, yaitu tipe I dan II. Diabetes tipe I (juvenile-onset, insulin dependent) terjadi karena tubuh sama sekali tidak mampu memproduksi insulin, sedangkan diabetes tipe II (adult-onset, non-insulin dependent) disebabkan oleh insulin yang jumlahnya kurang atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Diabetes tipe I, dengan prevalensi 5-10% dari total penderita diabetes, umumnya diderita sejak kanak-kanak atau remaja dan diduga disebabkan oleh faktor keturunan. Sedangkan 90% sisanya termasuk tipe II, yang muncul saat dewasa (umumnya di usia 40 tahun ke atas). Berdasarkan penelitian, meskipun diabetes tipe II dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, namun sebenarnya tipe ini dapat dicegah dengan pola makan dan gaya hidup sehat. Jadi, ternyata 90-95% penyakit diabetes bisa dicegah bukan? Mungkin sekarang Anda bertanya bagaimana caranya?
Pengaruh Pola Makan
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Nurses’ Health Study di Harvard University terhadap 65.000 wanita selama 6 tahun menunjukkan bahwa wanita yang pola makannya tinggi gula dan rendah serat makanan, 2.5 kali beresiko lebih tinggi terhadap diabetes dibandingkan wanita yang biasa makan banyak serat makanan dan sedikit gula.
Menurut penjelasan dokter, serat larut memang mampu mengurangi kebutuhan tubuh akan insulin karena serat larut dapat memperlambat penyerapan karbohidrat dan mencegah kenaikan gula darah secara tiba-tiba. Sebaliknya, asupan serat larut yang rendah dibarengi dengan konsumsi gula yang berlebihan dapat memicu kebutuhan insulin yang tinggi, melebihi jumlah yang mampu diproduksi pankreas.
Para peneliti di National Institute of Diabetes, Digestive and Kidney Diseases di Amerika membandingkan komunitas suku Pima Indian yang tinggal di Meksiko dan di Arizona. Meskipun secara genetika mereka sama, tetapi pola makan dan gaya hidupnya jauh berbeda. Suku Pima Indian di Meksiko umumnya pekerja keras dan sehari-hari banyak mengkonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat, seperti corn tortilla dan taco. Sedangkan suku Pima Indian yang tinggal di Arizona jarang melakukan aktivitas fisik serta mengkonsumsi makanan rendah serat dan tinggi lemak, seperti hot dog dan french fries. Akibatnya, 50% suku Pima Indian di Arizona yang berusia 30 sampai 64 tahun banyak menderita diabetes dan hanya 9% suku Pima Indian Meksiko yang terkena diabetes. Penemuan ini menunjukkan bahwa untuk penyakit diabetes, pola makan dan gaya hidup memiliki pengaruh lebih besar daripada faktor genetik.
Berapa Jumlah Serat yang Dibutuhkan?
American Diabetes Association (ADA) menyarankan agar penderita diabetes mengkonsumsi 50 gram serat makanan per hari. Hal ini didasarkan pada penelitian yang dimuat di New England Journal of Medicine 2000, yang menunjukkan bahwa konsumsi 50 gram serat per hari dapat menurunkan kadar gula darah secara signifikan, bahkan dapat mengurangi kebutuhan akan obat diabetes. Serat yang bermanfaat bagi penderita diabetes adalah jenis serat larut (soluble fiber). Serat ini dapat ditemukan pada akar tanaman chicory, buah jeruk, pepaya, apel, kismis, serta kacang-kacangan seperti kacang merah, kacang tolo dan lentil.
Tips Pola Makan Tinggi Serat
• Bagi penderita diabetes, disarankan mengkonsumsi 40 gram serat per hari.
• Untuk pencegahan, disarankan mengkonsumsi 20-35 gram serat per hari.
• Tambahkan serat secara bertahap, 3-5 gram per hari untuk mencegah kembung.
• Minumlah minimal 8 gelas air per hari agar serat dapat bekerja optimal.
Gaya Hidup Sehat
Selain pola makan, gaya hidup juga menentukan resiko diabetes. Seperti pada suku Pima Indian Meksiko di atas, yang banyak melakukan aktivitas fisik (40 jam per minggu) lebih jarang terkena diabetes dan kegemukan daripada Pima Indian Arizona yang aktivitas fisiknya rendah (2-3 jam per minggu).
Bisa Lebih Efektif dari Obat
Diabetes Prevention Program, sebuah studi yang dilakukan di Amerika, menemukan bahwa perubahan gaya hidup serta pola makan dapat menurunkan resiko diabetes hingga 58%. Sementara pengobatan dengan obat diabetes jenis metformin ‘hanya’ mengurangi resiko diabetes sebesar 31%. Studi tersebut dilakukan di 27 medical center Amerika dengan melibatkan 3.234 orang yang mengalami impaired glucose tolerance (toleransi glukosa terganggu), tahap awal dari penyakit diabetes tipe II. Gaya hidup dan pola makan yang diterapkan dalam studi ini mencakup olah raga selama 30 menit per hari, makanan rendah lemak, serta menjaga berat badan pada kisaran normal
Jadi, tunggu apa lagi? Jika Anda menderita diabetes atau beresiko terkena diabetes (keturunan penderita diabetes, kegemukan, berusia lebih dari 40 tahun, kurang olah raga), segera ubah pola makan dan gaya hidup Anda! (cdy)

Manisnya Buah Untuk Diabetesi

Manisnya Buah Untuk DiabetesiKonsumsi buah-buahan sangatlah dianjurkan oleh American Diabetes Association sebagai bagian dari pola pengaturan makan diabetesi1. Anda tidak perlu khawatir untuk menikmati sehat dan lezatnya buah-buahan. Yang terpenting, pilihlah buah-buahan dengan nilai indeks glikemik2 yang rendah. Berikut kami berikan contoh buah-buahan yang selain nikmat dan aman juga memiliki berbagai manfaat terhadap kesehatan tubuh Anda. Sajikan dalam keadaan fresh dan konsumsilah dalam jumlah yang cukup.
Kiwi
Indeks Glikemik = 53
Anda dapat menjumpai buah ini di pasaran dalam dua jenis warna, kuning dan hijau. Kiwi hijau terasa agak lebih masam sedangkan kiwi berwarna kuning lebih manis, namun keduanya memiliki kandungan vitamin C yang tinggi di dalamnya sehingga membantu meningkatkan daya tahan tubuh Anda3.
Anggur
Indeks Glikemik = 43
Anggur merupakan pilihan yang praktis bagi para diabetesi. Kandungan alami resveratrol pada anggur sangat baik bagi tubuh karena berfungsi sebagai antioksidan yang dapat membantu menjaga kesehatan sel-sel tubuh Anda.
Stroberi
Indeks Glikemik = 38
Stroberi populer karena rasanya yang segar dan nikmat. Hal ini menjadikan buah ini banyak disukai orang. Stroberi juga mengandung tinggi vitamin C dan anthocyanin; keduanya bermanfaat sebagai antioksidan bagi tubuh5. Diabetesi pun tidak perlu ragu untuk mengonsumsinya.
Apel
Indeks Glikemik = 40
Tidak hanya daging buahnya, kulit apel juga sangat direkomendasikan untuk dikonsumsi karena mengandung serat yang tinggi. Konsumsi serat yang cukup sangat baik bagi para diabetesi karena membantu menjaga dan mengendalikan kestabilan kadar gula darah. Oleh karena itu, apel cocok dijadikan pilihan camilan sehat Anda.
Jeruk
Indeks Glikemik = 42
Selain aman bagi para diabetesi, jeruk mengandung tinggi vitamin C dan juga serat6. Penyajiannya juga bisa bermacam-macam. Dengan rasa yang menyegarkan, jeruk membantu melindungi serta meningkatkan kualitas kesehatan Anda.
Referensi:
  1. American Diabetes Association, 2009
  2. Indeks glikemik (IG) menyatakan suatu nilai yang menunjukkan seberapa cepat suatu makanan dapat meningkatkan kadar gula darah. Semakin tinggi nilai IG suatu makanan, semakin cepat makanan tersebut meningkatkan kadar gula darah. Para diabetesi sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan dengan nilai IG yang rendah (< 55) untuk menjaga kestabilan gula darahnya
  3. Nutritiondata.com, 2009
  4. J Exp Clin Cancer Res. 28(1):96
  5. J Agric Food Chem 51(23):6887-6892/li>
  6. Nutritiondata.com, 2009/li>

Apakah Anda Kecanduan Gula?

Apakah Anda Kecanduan Gula?Terkejut membaca judul di atas? Mungkinkah kita “mencandu” gula?

Manusia memang memiliki kesukaan terhadap rasa manis sejak kecil. Tak heran, kita menganggap semua yang rasanya manis sebagai hal yang enak dan menyenangkan. Coba saja membayangkan diri Anda menyantap donat dengan glaze coklat kesukaan Anda! Nyammm!
Keinginan untuk mengonsumsi makanan manis semakin meningkat, apalagi jika tidak dikonsumsi dalam jangka lama.
Sugar addiction, Kok Bisa?
Dugaan adanya sugar addiction berasal dari penemuan bahwa banyak orang merasakan adanya keharusan mengonsumsi makanan yang manis. Hal ini diibaratkan seperti orang yang mengalami ketergantungan pada alkohol dan merasa harus terus minum alkohol. Selain itu, kecanduan biasanya dicirikan dengan konsumsi yang semakin meningkat, apalagi jika tidak dikonsumsi dalam jangka lama (craving). Oleh karena itu, dikenal adanya carbohydrate craver, yaitu keinginan menyantap makanan-makanan yang tersusun dari karbohidrat (misalnya roti manis, cake, atau minuman manis), setelah sekian lama tidak mengonsumsi makanan jenis ini3. Selain itu, penelitian juga memperlihatkan bahwa gula dan makanan yang enak memiliki efek yang sama pada otak dengan efek yang ditimbulkan oleh zat-zat yang memiliki efek kecanduan. Hal ini memicu kemungkinan bahwa gula dapat bersifat adiktif1,2,3.
Sebuah ulasan berbagai studi mengenai sugar addiction di tahun 2010 akhirnya menyimpulkan bahwa belum dapat dipastikan bahwa seseorang dapat kecanduan gula. Akan tetapi, karena rasa manis umumnya memiliki sifat disukai, ada kemungkinan besar bahwa orang mengalami kelebihan konsumsi gula. Mengapa? Ternyata, seseorang yang sudah terbiasa mengonsumsi rasa manis, akan cenderung memilih makanan dan minuman yang rasanya manis pula1. Bahkan, orang yang menyukai makan makanan yang manis akan cenderung makan manis berlebihan lebih sering3.
Bisa ditebak, risiko obesitas Anda pun naik! Efek lanjutannya, risiko diabetes Anda juga ikut meningkat!
Rasa manis tanpa gula, mungkinkah?
Mengapa tidak? Terlepas dari benar atau tidak gula dapat menyebabkan kecanduan, konsumsi gula dan kalori yang berlebih jelas tidak baik bagi kesehatan. Mari mulai membiasakan pola hidup sehat dengan mengurangi jumlah konsumsi gula dari sekarang. Pilihlah produk-produk manis yang rendah kalori dan bebas gula. Jadi kita bisa menikmati rasa manis tanpa khawatir akan konsumsi gula berlebih. Take the sweet, not the sugar!
References :
  1. Benton D. 2010. The plausibility of sugar addiction and its role in obesity and eating disorders. Clinical Nutrition 29: 288–303.
  2. Avena NM, Rada P, Hoebel BG. 2008. Evidence for sugar addiction: Behavioral and neurochemical effects of intermittent, excessive sugar intake. Neuroscience and Biobehavioral Reviews 32: 20–39.
  3. Avena NM, Rada P, Hoebel BG. 2009. Sugar and fat bingeing have notable differences in addictive-like behavior. J Nutr 139: 623–628.

Tidak hanya Baik untuk Penderita Diabetes, tapi juga untuk Kesehatan Kita

Tahukah Anda? Ternyata, pola makan diabetesi dapat juga diterapkan bagi Anda yang ingin memulai untuk pola hidup sehat. Seperti apakah pola makan untuk diabetesi?
Rule of thumb (red: aturan dasar) untuk pengaturan pola makan diabetes dalam sekali makan mencakup:

  • ½ bagian sayuran seperti brokoli, wortel, tomat, atau buncis
  • ¼ bagian karbohidrat terutama karbohidrat kompleks seperti pasta atau nasi merah
  • ¼ bagian lauk seperti daging ikan, daging dada ayam tanpa kulit, daging tanpa lemak, atau sumber protein yang lain

Pengaturan makan demikian dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan sehari-hari sembari membantu mengontrol kadar gula darah diabetesi4. Selain itu, Anda juga bisa konsumsi susu rendah lemak dan juga lengkapi dengan buah-buahan.

Bagi Anda yang ingin memulai pola hidup sehat, pola makan seperti ini kaya akan serat dan juga komponen antioksidan yang berasal dari sayur-sayuran beraneka warna sehingga akan membantu menjaga kesehatan Anda. Selain itu, juga dilengkapi dengan karbohidrat kompleks sebagai sumber energi dan diserap lebih lama sehingga lebih mengenyangkan. At last but not least, adanya lauk pauk juga akan membantu mencukupi kebutuhan protein Anda. Selain dikenal sebagai bahan pembentukan otot, ternyata protein juga penting Change your food pattern now! #Remember, healthy food now for future healthier you!

Kenali Risiko Diabetes lebih Dini


Share   
Kenali Resiko Diabetes lebih DiniDiabetes merupakan penyakit yang disebabkan karena adanya gangguan pada kerja hormon insulin, yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Hormon insulin merupakan hormon yang mengatur metabolisme glukosa dalam darah. Pada penderita diabetes, gangguan tersebut menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat dan dikenal dengan istilah “hyperglycemia”. Hyperglycemia menyebabkan keberadaan glukosa pada urine penderita diabetes. Hal inilah yang menyebabkan diabetes sering disebut juga dengan penyakit “kencing manis”1.Pada umumnya diabetes di deteksi dengan menggunakan kadar gula darah puasa (Fasting plasma glucose). Jika kadar gula puasa Anda lebih dari 100 mg/dL maka bisa jadi Anda beresiko terkena diabetes. Beberapa penelitian terakhir menunjukkan bahwa tidak hanya dengan kadar gula puasa , kini resiko diabetes bisa diprediksi oleh kandungan LDL, HDL, Trigliserida, serta asam urat Anda.
Penelitian yang dilakukan di India, negara dengan populasi diabetes yang tinggi menunjukkan bahwa insulin resistance dipengaruhi oleh keadaan dyslipidemia (keadaan trigliserida berlebih, kadar HDL yang rendah, serta LDL yang tinggi ) 2.
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan bawah kandungan trigliserida yang tinggi ( ≥ 130 mg/dL) akan menyebabkan resiko diabetes bertambah sebesar 2.30 kali, sementara pada jika level Trigliserida rendah ≤ 130 mg/dL akan menyebabkan resiko diabetes berkurang sebesar 0.46 kali. Pada penelitian yang sama, juga digunakan parameter rasio Trigliserida dan HDL. Pada individu yang normal kandungan HDL berada pada jumlah yang tinggi (karena HDL merupakan kolesterol yang baik untuk fungsi tubuh), sementara trigliserida seharusnya berada pada level rendah. Jika rasio Trigliserida-HDL ≥ 1.8 (3.0) (Trigliserida Tinggi) dan HDL rendah, maka resiko terkena diabetes akan meningkat 2 kali lipat 3.
Selain ketiga indikator di atas, Asam urat juga merupakan indikator lain yang dapat memprediksikan adanya resistensi kerja insulin yang merupakan bagian dari gejala diabetes. Hasil penelitan yang dilakukan di Bosnia, menunjukkan bahwa pada individu yang menderita diabetes jumlah serum asam urat cenderung mengalami peningkatan. Dengan demikian pada individu yang mengalami gangguan resistensi insulin asam urat dapat menjadi salah satu indikator 4,5.
Jadi selain kadar gula darah puasa, risiko diabetes kini juga dapat dideteksi melalui kandungan trigliserida, HDL, LDL, serta asam urat Anda. Sudahkah Anda mengecek nilainya?
References
  1. American Diabetes Association. 2009. Diabetes Basics. http://www.diabetes.org/diabetes-basics/
  2. Misra , A and N.K. Vikram. 2002. Insulin resistance syndrome (metabolic syndrome) and Asian Indians CURRENT SCIENCE 83 (12) : 1483-1496.
  3. McLaughlin, et al. 2003. Use of Metabolic Markers To Identify Overweight Individuals Who Are Insulin Resistant. Ann Intern Med.139:802-809.
  4. Causevic, et al. 2010. Relevance of Uric Acid in Progression of Type 2 Diabetes Mellitus. Bosnian Journal of Basic Medical Sciences 10 (1): 54-59.
  5. Nan, et al. 2010. Serum uric acid, plasma glucose and diabetes. Diabetes & Vascular Disease Research 7(1) 40– 46

Mari Hindari Komplikasi Diabetes!

12 cara untuk menghindari komplikasi penyakit diabetes:


  • Berhati-hatilah memilih jenis karbohidrat yang dikonsumsi
    Diabetes bukan berarti tidak mengkonsumsi karbohidrat sama sekali. Pilihlah karbohidrat yang dipecah secara perlahan-lahan dalam tubuh yaitu dengan nilai GI rendah, sehingga energi dalam tubuh Anda tetap tersedia dalam waktu yang lama. Konsumsi roti gandum, serelia, polong-polongan, sayuran, dan buah-buahan segar. Ya! Anda dapat mengkonsumsi buah-buahan meskipun terasa manis. Hal terpenting adalah konsumsi jumlah karbohidrat secara tepat pada setiap jam makan Anda. Konsultasi dengan ahli nutrisi akan membantu Anda dalam menentukan jenis dan jumlah karbohidrat yang tepat!

  • Turunkan berat badan Anda jika memang diperlukan
    Mulai tetapkan goal tujuan Anda secara realistis. Penurunan berat badan hingga mencapai berat badan ideal ternyata dapat menghindarkan Anda dari komplikasi diabetes, karena membantu menurunkan kadar gula darah dan tekanan darah, serta meningkatkan profil lemak dalam tubuh. Selain itu, Anda akan memiliki cukup energi dalam tubuh.
    Bagaimana caranya? Prinsipnya, bakarlah kalori lebih banyak daripada kalori yang Anda konsumsi. Hindari goreng-gorengan juga menjadi salah satu tips praktis untuk mengurangi asupan lemak tubuh Anda.

  • Istirahat dan tidur yang cukup
    Jika Anda kurang tidur, akan memacu kenaikan gula darah dan secara otomatis juga lebih menstimulasi Anda untuk mencari makanan-makanan yang tinggi karbohidrat. Hal ini akan memicu peningkatan berat badan, yang akan memicu komplikasi penyakit dalam tubuh seperti penyakit jantung dan ginjal.
    Jadi, cukupi kebutuhan tidur Anda yaitu sekitar 7-8 jam per hari. Jika Anda memiliki gangguan tidur, mulailah coba konsultasi dengan dokter Anda untuk mulai memperbaiki kebiasaan tidur Anda. Ingat! Kebiasaan tidur yang baik akan membuat Anda mengikuti pola hidup sehat juga tentunya.

  • Lebih aktif lagi dan berolahraga
    Pilih jenis olahraga yang memang Anda sukai, misalnya berjalan kaki, menari, atau hanya sekedar berjalan di tempat ketika Anda sedang menelepon. Lakukan hal itu selama sekitar 30 menit per hari nya, bahkan boleh ditambahkan sesuai dengan kemampuan Anda. Berolahraga dapat menurunkan resiko terkena penyakit jantung, kolesterol, dan tekanan darah, serta menurunkan berat badan. Olahraga juga mampu mengurangi stress dan membantu Anda untuk mengurangi asupan obat-obatan diabetes.

  • Pantau kadar gula darah Anda secara teratur
    Terkadang, secara rutin memeriksa kadar gula darah Anda mampu membantu dalam menghindari komplikasi diabetes. Selain itu, Anda juga mampu memantau bagaimana pengaruh asupan makanan dan pola olahraga Anda terhadap kadar gula darah Anda, apakah program itu berhasil atau tidak? Dokter Anda dapat memberikan range target level kadar gula darah Anda. Semakin dekat Anda dengan target gula darah, maka tentunya kesehatan Anda akan semakin baik.

  • Atur kadar stress Anda
    Saat Anda menderita diabetes, stress dapat menjadi salah satu hal yang akan memicu kenaikan kadar gula darah Anda! Hindari atau atur level stress Anda baik secara fisik maupun secara mental. Pelajari teknik mengatur stress yang baik. Teknik relaksasi seperti yoga, latihan pernapasan, atau meditasi mungkin bisa efektif terutama bagi penderita diabetes tipe 2.

  • Katakan TIDAK pada garam
    Kurangi jumlah garam dalam makanan Anda. Tentunya, kurangnya kadar garam akan membantu menurunkan tekanan darah Anda dan melindungi kesehatan ginjal. Salah satu cara yang nyata adalah hindari makanan-makanan yang diproses/makanan instant, karena biasanya mengandung kadar garam yang tinggi. Gunakan bumbu-bumbu tradisional atau rempah-rempah untuk menyedapkan masakan Anda daripada menggunakan garam.

  • Pantau selalu profil kesehatan jantung Anda
    Penyakit jantung bisa menjadi salah satu akibat dari komplikasi diabetes. Anda harus secara teratur memeriksa tekanan darah Anda dan nilai kolesterol.
    Target tekanan darah Anda adalah harus di bawah 130/80 mmHg, nilai kolesterol LDL di bawah 100 mg/dL, HDL > 40 mg/dL, dan nilai trigliserida < 150 mg/dL.

  • Rawatlah luka lebam maupun luka-luka tertentu pada tubuh Anda
    Diabetes akan meningkatkan resiko infeksi dan memperlambat kemampuan tubuh dalam proses penyembuhan, sehingga benar-benar perhatikan luka apapun pada tubuh Anda meskipun berukuran sangat kecil. Secara benar, bersihkan luka tersebut dan gunakan salep pembersih dan pembalut yang steril. Jika selama beberapa hari tidak membaik, segeralah konsultasikan dengan dokter Anda. Perhatikan kaki Anda setiap hari terutama supaya tidak terjadi luka, bengkak, atau lebam apapun. Gunakan krim pelembab sehingga kulit kaki tidak pecah-pecah.

  • Stop kebiasaan merokok
    Bagi para penderita diabetes yang merokok memiliki resiko kematian 3 kali lebih besar karena penyakit jantung dibandingkan yang tidak merokok. Berhenti merokok akan melindungi jantung dan paru-paru Anda. Konsultasikan dengan dokter tentang cara-cara yang efektif untuk berhenti dari kebiasaan merokok ini.

  • Pilih makanan-makanan yang bergizi tinggi namun tetap dalam jumlah yang wajar
    Tetap konsumsi buah-buahan yang mengandung antioksidan tinggi seperti buah berry (strawberry, blueberry, dll), pomegranate, kiwi. Konsumsi ikan laut dengan kandungan omega-3 yang tinggi dan sayur-sayuran hijau juga berpotensi untuk tetap menjaga kesehatan Anda. Hindari juga lemak jenuh (saturated fats dan asam lemak trans).

  • Kunjungi dokter Anda secara berkala
    Jadwalkan konsultasi berkala dengan dokter Anda sekitar 2-4 kali per tahunnya. Jika Anda menggunakan insulin untuk menyeimbangkan kadar gula darah Anda, mungkin Anda perlu konsultasi lebih sering lagi. Selain itu, jadwalkan pula medical check up secara berkala untuk memeriksa kesehatan mata, ginjal, jantung maupun organ tubuh yang lain. Kunjungi juga dokter gigi Anda 2 kali setahun, namun pastikan untuk tetap memberitahu selama pemeriksaan dilakukan, bahwa Anda memiliki diabetes sehingga prosedur yang sesuai dapat dilakukan.

  • Reference:
    • 1. WebMD. 2010. 12 Tips to Avoid Diabetes Complications. www.webMD.com [26 July 2010].

    10 OKE, MENCEGAS DEABETES

    1. Put Your Shoes by the Door
    Meletakkan alas kaki di dekat pintu, membuat kita selalu teringat untuk mengenakannya sebelum keluar rumah. Trik sederhana untuk menghindari terlukanya kaki dan terjadinya komplikasi bagi penderita diabetes.
    2. Do a Quick Body Scan
    scratch-screeningMari amati tubuh kita sembari mengeringkan badan sehabis mandi, mulai dari kepala hingga kaki. Perhatikan jika ada ruam atau luka yang bisa terinfeksi. Segera obati jika Anda menemukannya. Perhatikan pula tempat-tempat yang lembab dan tersembunyi sehingga nyaman bagi bakteri untuk berkembang biak. Cek bagian bawah lengan ataupun payudara, di antara kaki dan jempol. Manfaatkan cermin untuk membantu kita memantau bagian belakang tubuh kita. (more…)

    SEPUTAR DEABETES

    Apakah diabetesi boleh berpuasa?
    Bulan puasa merupakan saat yang tepat untuk lebih dekat dengan Tuhan yang Maha Kuasa. Semua orang dapat berpuasa, begitu juga dengan diabetesi. Penderita diabetes tipe 1 boleh saja berpuasa, tapi agar terhindar dari masalah kesehatan lainnya, sebaiknya diabetesi tetap memperhatikan beberapa kondisi berikut ini:
    1. Hipoglikemik
      Hipoglikemik (hypoglycemia) merupakan kondisi saat kadar gula darah pada penderita diabetes sangat rendah. Seorang diabetesi dikatakan terkena hypoglycemia yaitu ketika gula darah mencapai <70 mg/dL, yang ditandai dengan kelaparan, kepala pusing, badan lemas, dll. Hal ini dapat terjadi ketika beraktivitas cukup tinggi tanpa mengonsumsi makanan apapun sehingga tidak adanya sumber energi yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini menyebabkan kurangnya gula darah dan kadar gula darah menjadi sangat rendah. Selain itu, pada diabetesi tipe 1 yang berpuasa, hormon glukagon yang berfungsi untuk meningkatkan kadar gula darah juga tidak berfungsi semestinya, sehingga dapat terjadi hipoglikemik ini.
    2. Hiperglikemik
      Hiperglikemik adalah kondisi saat kadar gula darah pada penderita diabetes menjadi sangat tinggi. Hiperglikemik bisa terjadi karena ketika berpuasa, tubuh akan kekurangan gula darah akibat tidak adanya makanan. Hal ini kemudian akan memicu hormon glukagon untuk memecah cadangan karbohidrat dalam tubuh menjadi gula darah. Namun demikian, yang terjadi adalah terlalu banyak karbohidrat yang terpecah menjadi gula darah. Selain itu, respon tubuh yang lain akibat kerja hormon glukagon adalah memancing tubuh untuk meningkatkan produksi gula darah sehingga justru akan menjadi berlebihan. Ketika kadar gula darah menjadi terlalu tinggi, hal ini lah yang disebut hiperglikemik. Tentunya, kondisi hiperglikemik ini juga berbahaya bagi diabetesi terutama diabetesi tipe 1.
    3. DKA (Diabetic Ketoasidosis)
      DKA juga terjadi bersamaan dengan hiperglikemik, yaitu ketika tubuh kekurangan gula darah, tubuh juga mencari sumber energi lain yaitu dengan meningkatkan oksidasi asam lemak tubuh sebagai sumber energi. Namun demikian, sebagai akibatnya, terjadi pembentukan senyawa lain yaitu senyawa keton. Senyawa ini dalam jumlah yang banyak akan mengganggu keseimbangan pH dan asam basa dalam darah. Jika terjadi dalam waktu yang lama biasanya ditandai dengan muntah-muntah ataupun dehidrasi. Umumnya, DKA terjadi pada diabetesi tipe 1 akibat berkurangnya suntikan insulin, karena dianggap tidak perlu sebagai akibat berpuasa (tidak adanya asupan makanan, sehingga dianggap tidak perlu suntikan insulin).
    4. Dehidrasi
      Ketika berpuasa, otomatis terjadi penurunan asupan jumlah cairan tubuh, dan jika terjadi pada waktu yang lama, akan berpotensi tingkatkan dehidrasi. Ditambah lagi, jika cuaca panas yang tentu saja akan meningkatkan pengeluaran keringat dari dalam tubuh.
    Dengan demikian, penderita diabetes boleh saja berpuasa, namun sebaiknya memberikan perhatian khusus dalam hal nutrisinya. Untuk mengetahui tips and trick dalam berpuasa, coba cek artikel.
    Referensi
    Al-Arouj, Monira., et al. 2005. Recommendation for Management of Diabetes During Ramadan. Diabetes Care 28 (9): 2305-2311.

    Awas! Risiko Diabetes Mengintai si Buah Hati

    Awas! Risiko Diabetes Mengintai si Buah Hati Semua anak kecil pasti suka makan permen, coklat, kue, serta berbagai makanan manis lainnya. Anda mungkin membiarkan sang buah hati untuk makan makanan tersebut asalkan mereka tetap menurut dan bersikap manis. Bahkan tidak jarang juga, Anda menjanjikan makanan manis sebagai reward untuk mereka. Namun tahukah Anda apa yang akan terjadi dengan si kecil saat mereka dewasa nanti? (more…)

    Tidak hanya Baik untuk Penderita Diabetes, tapi juga untuk Kesehatan Kita

    Tahukah Anda? Ternyata, pola makan diabetesi dapat juga diterapkan bagi Anda yang ingin memulai untuk pola hidup sehat. Seperti apakah pola makan untuk diabetesi?
    Rule of thumb (red: aturan dasar) untuk pengaturan pola makan diabetes dalam sekali makan mencakup:

    • ½ bagian sayuran seperti brokoli, wortel, tomat, atau buncis
    • ¼ bagian karbohidrat terutama karbohidrat kompleks seperti pasta atau nasi merah
    • ¼ bagian lauk seperti daging ikan, daging dada ayam tanpa kulit, daging tanpa lemak, atau sumber protein yang lain
    (more…)

    Apakah Anda Kecanduan Gula?

    Apakah Anda Kecanduan Gula?Terkejut membaca judul di atas? Mungkinkah kita “mencandu” gula?
    (more…)

    Kuis Tingkat Risiko Penyakit Diabetes

    Kuis Tingkat Risiko Penyakit DiabetesRisiko seseorang terkena diabetes dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti sejarah keturunan keluarga, pola hidup, jenis makanan yang dikonsumsi, aktivitas fisik, sampai waktu istirahat seseorang. Karena setiap orang memiliki pola hidup sehari-hari yang berbeda, tentunya risiko terkena diabetes pun berbeda! (more…)

    Bayam: Baik untuk Diabetes, Baik untuk Pencernaan

    Spinach & Friends: Good for Your Diabetes As Good As for Your Digestion.Wow, bayam dan sayuran hijau lainnya ternyata tidak hanya baik untuk membantu melancarkan pencernaan tetapi juga untuk mencegah diabetes1! (more…)

    DEABETES


    PDFPrintE-mail

    OBAT UTAMA:
    1. Diabeticaps
    2. Habbat Extract
    3. Momordicae Folia


    OBAT PENDUKUNG:
    1. Madu Sehat
    2. Nutrivit


    TERAPI MEDIS:
    1. Bekam
    2. Accupresure
    3. Accupunkture
    4. Perbaiki pola makan, antara lain dengan menghindari gula, konsumsi karbohidrat komplek (umbi-umbian, nasi), menurangi tepung.
    5. Olahraga teratur (minimal 3 kali semingu)


    TERAPI ROHANI:
    1. Tahajud (sangat dianjurkan)
    2. Puasa Sunnah (minimal Senin-kamis)
    3. Perbanyak baca Al-Quran (dapat memperbaiki kualitas darah)
    4. Perbanyak Sedekah


    TERAPI JUS:
    1. Pare (1 bh) + kacang panang (3 bh) + toge (segenggam) + wortel (1bh) + madu (secukupnya), semua sayuran dalam keadaan mentah, jangan dimasak/direbus. minum pagi hari sebelum makan dan sore hari.

    DIABETES MELITUS, SI PEMAKAN TUBUH DIABETESI

    Diabetes Melitus adalah penyakit metabolisme dengan kriteria kadar gula darah yang tinggi. Gula darah sewaktu > 200mg%, atau gula darah puasa >140mg%, atau gula darah 2 jam setelah makan 75g glukosa >200mg%.
    Penderita DM (diabetesi) sering tidak menyadari tingginya gula darah kecuali pada saat yang tidak disengaja, misalnya cek kesehatan untuk melamar pekerjaan, atau periksa ke dokter dengan gejala yang sebenarnya merupakan manifestasi penyakit yang sudah kronis, misal bekas kencingnya dikerubuti semut, sering kesemutan, sering cepat merasa lelah.
    Tingginya kadar gula disebabkan terganggunya organ pankreas sehingga hormon insulin yang dihasilkan jumlahnya sedikit yang tidak mencukupi untuk menurunkan kadar gula darah atau jumlahnya mencukupi namun kualitasnya rendah sehingga tetap tidak bisa menurunkan kadar gula darah. Kerja Insulin adalah mendorong glukosa darah ke sel tertentu (untuk diubah menjadi energi) dan mengubah kelebihan glukosa darah menjadi glikogen yang disimpan di hati dan otot sebagai timbunan energi.

    DM adalah penyakit berbahaya karena bila tidak tertangani mengakibatkan komplikasi ke semua bagian tubuh, dari kulit, mata, jantung, ginjal, pembuluh darah sampai tangan dan kaki. Tiga kondisi DM yang dapat menyebabkan kematian: gangguan pembuluh darah otak, gangguan pembuluh darah jantung dan otot jantung, gangguan fungsi ginjal.

    DM tergolong penyakit keturunan, sehingga seseorang yang memiliki orang tua DM harus menjaga pola hidupnya dari faktor-faktor yang dapat memicu munculnya DM.
    Gejala utama DM adalah 3P, polidipsi (banyak minium), polifagi (banyak makan), poliuri (banyak kencing). Gejala lainnya:

    1. Penurunan berat badan dalam waktu yang singkat akibat dari hilangnya jaringan lemak dan otot sehingga sering dikatakan diabetesi makan tubuhnya sendiri,
    2. Astenia (rasa lemah), terjadi karena badan kehilangan air dan elektrolit lewat urin,
    3. Rasa nyeri,laki-laki pada zakarnya, perempuan pada duburnya,
    4. Kejang-kejang kaki, terjadi akibat hilangnya elektrolit serta dehidrasi,
    5. Pembesaran hati,
    6. Gangguan Penglihatan, katarak,
    7. Adanya Glukosa di dalam urin,
    8. Gatal-gatal,
    9. kesemutan di ujung-ujung jari,
    10. disfungsi ereksi.
    Pengobatan DM meliputi 6 aspek:
    1. Edukasi,
    2. Perubahan pola hidup, misal pengendalian stres, peningkatan spiritual,
    3. Perubahan pola makan, dengan menerapkan Food Combining, menghindari makanan dan minuman yang tidak bermanfaat,
    4. Olah raga yang teratur, tiap 2 hari sekali,
    5. Terapi Konvensional dengan obat-obatan kimia, bagi diabetesi yang telah mengkonsumsi dan secara bertahap diturunkan dosisnya sampai kemudian ditinggalkan dan secara penuh beralih ke Pengobatan Tradisional yang meliputi Herbal dan Teknik Terapi, seperti kiropraksi, akupunktur, akupresur dan Bekam. Dengan pengobatan tunggal semata obat kimia, sebaik apapun jenisnya tidak akan berguna karena sifatnya yang simtomatis dan fungsi pankreas tiap tahun tetap akan menurun secara signifikan
    Fungsi herbal dalam mengobati DM adalah : menurunkan kadar gula darah, memperbaiki fungsi pankreas, membangun kembali sel dan jaringan pankreas yang rusak, meningkatkan efektifitas insulin serta menyembuhkan komplikasi DM.

    Beberapa Herbal yang sesuai untuk DM:
    1. Buah Pare, mengandung charantin, polipeptida P dan Visin yang bersifat Hipoglikemik,
    2. Buah Makasar, sangat baik untuk DM pada saat kadar gulanya cukup tinggi,
    3. Daun Pegagan, memperbaiki peredaran darah dan mengenyahkan toksin,
    4. Brotowali (Tinospora Crispa),
    5. Lidah Buaya (Aloe Vera), menstimulasi pankreas,
    6. Haba Sauda (Nigella Sativa), menstimulasi pankreas,
    7. Ciplukan (Physallis Peruviana),
    8. Daun Mimba (Azhadirachta Indica Juss),
    9. Sambiloto (Andrograpis Panikulata),
    10. Pulai (Alstonia Scholaris R. Br)
    11. (Tetracera Indica),
    12. (Pithecellobium Jiringa),
    13. (Barringtonia Racemosa),
    14. Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarpa)
    15. Virgin Cocounot Oil

    Tanda Pradiabetes Dapat Dideteksi

    LONDON - Para peniliti dari University College London menyatakan perubahan kimia tubuh dapat dideteksi bertahun-tahun sebelum gejala diabetes 2 menyerang. Studi Lancet, label untuk penelitian, menunjukkan jika perubahan kadar glukosa darah dan kensensitifan sensulin dapat dideteksi pada tubuh orang yang tengah menuju diabetes.

    Tim periset meneliti 6.538 tenaga buruh sipil sekitar lebih dari sepuluh tahun. Pada kurun waktu itu terdapat 505 kasus diabetes tipe dua dalam grup partisipan.

    Peneliti mengamati naik-turun kadar glukosa darah dalam tubuh para partisipan. Selain itu, mereka juga memantau bagaimana sel-beta pankreas bekerja, dan bagaimana kensensitifan sensulin berubah dari tahun ke tahun.

    Tim menemukan partisipan yang tidak mengembangkan kondisi menuju diabetes, menunjukkan perubahan 'tetap' dalam tubuh. Kondisi konstan itu terjadi meski dalam kurun sepuluh tahun.

    Sangat kontras, partisipan yang menuju arah diabetes menunjukkan peningkatan cepat dalam kadar glukosa. Peningkatan terjadi saat tidak makan maupun setelah makan. Itu berlanjut tiga tahun hingga mereka didiagnosa mengidap gejala diabetes tipe 2.

    Tm juga menemukan peningkatan cukup tajam dalan kensensitifan insulin pada pasien diabetes. Kondisi itu dideteksi lima tahun sebelum mereka didiagnosa mengidap.

    Pemimpin penelitian, Adam Tabak mengatakan model studi mereka membantu orang-orang yang beresiko tinggi mengidap diabetes. "Sehingga kami dapat membidik orang-orang itu lebih baik untuk mencegah mereka mengembangkan penyakit tersebut," ujarnya.

    "Kami yakin campur tangan saat permulaan sangat penting, bahkan sebelum masuk tahap pradiabetes konvensional" kata Adam. "Metoda itu kami harap dapat menghambat diabetes secara mendasar," ungkapnya./hc2d.co.uk/itz

    Cegah Diabetes dengan Jalan Kaki 30 Menit

    Jakarta, Jalan kaki sungguh memberikan khasiat yang beragam. Mulai dari kebugaran, meningkatkan stamina, mencegah osteoporosis. Jalan kaki juga ternyata juga bisa mencegah diabetes.

    Siapa yang tidak mengenal penyakit diabetes? Penyakit ini bisa menyerang siapa saja baik laki-laki ataupun perempuan dan tidak memandang usia penderita.

    Hidup dengan diabetes sangat tidak nyaman. Selain bisa menyebabkan komplikasi, penderita diabetes juga harus tergantung pada obat dan menjalani diet seumur hidupnya.

    Nah, salah satu cara yang mudah untuk mencegah penyakit ini adalah dengan berjalan kaki. Aktivitas fisik yang termasuk ringan hingga sedang dan aktivitas fisik yang lebih intensif, bisa mengurangi risiko terkena diabetes.

    Seperti dilansir dari diabetesvic.org.au, Minggu (12/7/2009) menurunkan kadar gula darah dengan mengurangi produksi glukosa dari hati pada orang yang gemuk. Meningkatkan pengaturan rata-rata glukosa dalam sel dan sensitivitas glukosa, meningkatkan sensitivitas insulin hingga 12-24 jam setelah melakukan aktifitas fisik, dan meningkatkan high-density liporpotein (HDL-kolesterol baik) dalam darah.

    Study di Australia mengindikasikan bahwa partisipan yang berjalan kaki antara 85 menit-3 jam per minggu, bisa mengurangi risiko terkena diabetes hingga 31%. Intensitas berjalan yang rutin (5 hari per minggu) setidaknya selama 3 jam per minggu bisa mengurangi risiko terkena diabetes pada remaja 31-42%.

    Penelitian lain juga menunjukkan bahwa wanita yang aktif melakukan aktivitas fisik seperti jalan kaki bisa mengurangi risiko terkena diabetes dibandingkan dengan wanita yang tidak melakukan aktivitas fisik sama sekali.

    Berjalan kaki juga dihubungkan dengan penurunan berat badan yang bisa mengurangi risiko terkena diabetes. Remaja yang dikategorikan overweight atau tidak aktif melakukan aktivitas fisik memiliki 3 kali kemungkinan lebih besar terkena diabetes dibandingkan remaja yang memiliki berat badan normal.

    Dengan berjalan kaki selama 30 menit dapat meningkatkan kontrol glukosa, yang bisa membantu otot menyerap gula darah dan ini mencegah penyumbatan aliran darah. Efek ini bisa bertahan selama berjam-jam ataupun beberapa hari, tapi tidak permanen sehingga diperlukan jalan kaki yang teratur untuk mengontrol gula darah.

    Kesehatan cardiovascular atau jantung yang lebih baik, karena orang dengan diabetes akan meningkatkan risiko penyakit jantung, jadi dengan berjalan kaki bisa mengurangi terkena penyakit jantung juga.

    Untuk awalnya, mulailah dengan perlahan, berjalan selama 5-10 menit pada hari pertama masih bisa diterima, yang terpenting adalah tidak mendapatkan luka atau sakit pada tubuh anda.

    Tambahkan 5-10 menit per minggu, lalu tingkatkan lagi hingga mencapai tujuan selama 45 menit sampai 1 jam, 5 sampai 7 hari seminggu, karena itu adalah waktu yang ideal untuk pemeliharaan glukosa darah. Namun manfaat kesehatan mulai bertambah saat 30 menit per hari.

    Hal yang paling penting dalam jalan kaki adalah menggunakan sepatu yang nyaman untuk kaki anda sehingga tidak menimbulkan cedera atau luka, sebaiknya gunakan walking shoes dan jangan lupa menggunakan kaus kaki.
    sumber: http://health.detik.com/read/2009/07/12/083547/1163360/766/cegah-diabetes-dengan-jalan-kaki-30-menit
     

    Nikotin Pemicu Pradiabetes

    Merokok meningkatkan risiko sakit jantung serta stroke karena nikotin akan membentuk daya tahan terhadap insulin, sehingga menimbulkan kondisi pra-diabetes. Peneliti meyakini kondisi itu akan meningkatkan risiko terhadap kardiovaskuler. Demikian diungkap oleh peneliti asal Amerika Serikat seperti dilansir upi.com, beberapa waktu lalu.

    Daya tahan terhadap insulin itu dikenal dengan kondisi pradiabetes, yaitu ketika kadar gula darah meningkat namun belum sampai pada tingkat diabetes. Hal itu dituturkan oleh peneliti pada pertemuan ahli Endokrine yang ke-91 di Washington.

    Peneliti yang berasal dari Charles Drew University of Medicine and Science di Los Angeles dan Western University of Health Science di California juga melaporkan, mereka mencoba untuk mengurangi efek berbahaya dari nikotin pada tikus percobaan dengan Mecamylamine.

    Kepala bagian Endokrinologi di Charles Drew, Theodore Friendman mengatakan, resistensi insulin yang dialami pada perokok menjelaskan mengapa kematian mereka banyak disebabkan penyakit kardiovaskular meskipun di sebagian kasus, merokok dapat menurunkan berat badan yang justru diyakini dapat melindungi dari penyakit jantung.

    "Penelitian kami menyimpulkan, penurunan resistensi terhadap insulin dapat mengurangi penyakit jantung. Kami belajar mengantisipasi hal itu di masa depan. Nantinya akan ada obat yagn dibuat khusus untuk menghalangi efek nikotin atau resistensi insulin," ujar Friedman pada pernyataannya.

    Ketika perokok mengalami resistensi insulin, maka  kadar gula darah mereka meningkat namun belum sampai pada tingkat diabetes.

    Pria Lebih Rentan

    Sebuah penelitian terpisah mengungkap, pria yang berusia antara 35-44 tahun memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena diabetes dibandingkan wanita berusia yang sama. Sebanyak 2,4 persen yaitu 92.960 pria di Inggris terkena diabetes dibandingkan wanita sebanyak 1,2 persen atau sekitar 47.000.

    Kasus diabetes di Inggris semakin meningkat, terutama untuk pria sebanyak empat kali lipat dibandingkan tahun 1996. Pada kelompok usia 45-54 tahun sekitar 54,6 persen pria atau 197.050 orang dan 3,6 persen wanita sebanyak 120.670 orang terkena diabetes.

    Diabetes UK, Simon O'Neill mengatakan, hal itu sangat memprihantinkan. Semakin banyak kasus diabetes yang sebenarnya bisa dihindari dengan pola hidup sehat dan olahraga teratur. (rin)

    sumber: http://republika.co.id/berita/62719/Nikotin_Pemicu_Pradiabetes

    Agar Gula Darah Tetap Rendah

    TEMPO Interaktif, Jakarta -Widi Hidayat, 30 tahun, 10 tahun silam didiagnosis menderita diabetes melitus tipe 1. Sel beta pankreasnya diketahui tidak bisa menghasilkan insulin. Gula darahnya ada di kisaran 500 mg/dL hingga 600 mg/dL. Waktu itu berat badan pria berambut mowhak ini merosot dari 70 kilogram menjadi 50 kilogram. Gejala khasnya berupa rasa haus yang tidak kunjung hilang dan nafsu makan yang begitu besar. Dokter yang menangani Widi menyarankan untuk melakukan injeksi insulin. Dari situ berat badan karyawan Bank Jabar cabang Sumedang ini naik menjadi 60 kilogram di tiga tahun pertama pemakaian insulin.
    Ketua Divisi Metabolik dan Endokrin, Departemen Penyakit Dalam, FKUI/RSCM, Profesor Dr dr Sidartawan Soegondo SpPD-KEMD, mengatakan sel beta pankreas pada penderita diabetes melitus tipe 1 memang tidak bekerja sehingga tubuh kekurangan insulin dan harus disuntik. Penyebabnya adalah antibodi yang merusak sel beta itu sendiri. Nah, reaksi antibodi itu bisa diakibatkan oleh serangan virus ataupun genetik. "Meski terjadinya tidak secara langsung," ujar Sidartawan seusai diskusi mengenai diabetes di Restoran Backstage, Taman Impian Jaya Ancol, beberapa waktu lalu.

    Berbeda dengan tipe 1, penderita diabetes melitus tipe 2 sebenarnya mampu menghasilkan insulin, cuma tidak optimal. Malah pada banyak kasus pankreas pada diabetes tipe 2 menghasilkan insulin di atas normal. Dalam beberapa literatur diketahui bahwa dari semua penderita diabetes, hampir di atas 90 persen adalah penderita diabetes tipe 2. Mereka banyak berasal dari usia produktif. Sekitar usia 45 sampai 65 tahun. Angka kejadian meningkat bersama meningkatnya usia--meski tetap dijumpai ada pada usia belasan. Yang jelas, Sidartawan menegaskan, penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikontrol dengan mengatur kadar gula dalam darah.

    Panduan Federasi Diabetes Internasional (IDF) tentang pengelolaan gula darah sesudah makan merekomendasi pasien diabetes untuk menjaga kadar gulanya tidak lebih dari 140 mg/dL pada dua jam sesudah makan. Patokan ini dipublikasi pertama kali pada September 2007 di Amsterdam, Belanda. Rekomendasi ini lebih kecil dibanding patokan sebelumnya, yang di batas 200 mg/dL. Panduan IDF ini menekankan pentingnya menjaga gula darah sesudah makan agar terhindar dari risiko komplikasi diabetes.
    Hal ini sekaligus mengubah paradigma lama dalam pengelolaan diabetes yang lebih berfokus pada pengendalian gula darah sebelum makan. Pada kenyataannya, mayoritas penderita diabetes menganggap naiknya gula darah sesudah makan merupakan hal yang lumrah. Sekalipun angkanya melewati batas normal. Hasil riset, pria kelahiran 14 Agustus ini memaparkan, sebanyak 84 persen penderita diabetes tipe 2 mengalami kenaikan gula darah sesudah makan di atas normal.

    Diketahui, tingginya gula darah sesudah makan bakal memicu produksi radikal bebas dalam jumlah besar, di antaranya reactive oxygen species (ROS). Yang bisa menimbulkan oxidative stress. Pembentukan oxidative stress ini dapat menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah yang merupakan tahapan awal dari kerusakan vaskuler. Menurut Sidartawan, komplikasi diabetes terjadi pada semua organ dalam tubuh yang dialiri pembuluh darah kecil dan besar dengan penyebab kematian 50 persen akibat penyakit jantung koroner dan 30 persen akibat gagal ginjal. "Selain kematian, DM juga menyebabkan kecatatan," ucapnya.

    Lebih lanjut, pria kelahiran Amsterdam itu menyebutkan bahwa sebanyak 10 persen penderita diabetes harus menjalani amputasi tungkai kakinya. Hal itu menurut dia bisa karena adanya kelainan saraf otonom yang mengganggu produksi keringat sehingga kaki menjadi tidak berkeringat. Kaki menjadi tidak lembap dan kering. Hingga akhirnya menyebabkan kaki menjadi pecah-pecah.

    Di saat yang sama, penderita diabetes kehilangan kemampuan merasakan sakit-saraf sensorik yang tidak bekerja. "Kaki dimasuki kotoran, daya tahan kurang, sarafnya tidak berasa. Menginjak paku, ya, jalan terus," Sidartawan bercerita. Nah, luka tersebut menjadi awal terjadi infeksi, yang kemudian memasuki jaringan lebih dalam kaki sehingga membutuhkan tindakan amputasi sebagai jalan keluar.

    Melihat bahayanya komplikasi itu, diperlukan kontrol gula darah secara mandiri dari si penderita. Bisa dengan menggunakan alat monitor gula darah sebagai metode untuk mengetahui level gula darah mereka. Tentunya dikombinasi dengan penerapan gaya hidup sehat dan rajin konsultasi dengan dokter. Pemantauan gula darah ini dinilai akan mendidik pasien mengatur sendiri pola makannya dan memancing mereka melakukan aktivitas positif demi nilai gula darahnya.

    Hal itu sejalan dengan hasil studi yang dilakukan Dr Ane C. Dale dari Universitas Ilmu dan Teknologi Norwegia di Trondheim belum lama ini. Dale dan timnya mendapati risiko kematian akibat serangan jantung empat kali lebih besar pada peserta yang jarang mengecek gula darah ketimbang grup lain yang mengontrol kadar gula darah secara teratur. "Kontrol gula yang baik mengurangi risiko komplikasi koroner pada pasien dengan diabetes," Dale dan timnya menyimpulkan, seperti dikutip Reuter.

    Sidartawan dalam presentasinya menyebut, pasien diabetes di Sulawesi Barat mencapai 17 persen sedang Papua Barat mencapai 21 persen dari jumlah populasi penduduknya. "Diperkirakan pada 2025 ada sekitar 333 juta orang menderita diabetes," katanya.
    HERU TRIYONO
    
    Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/07/21/brk,20090721-188151,id.html
    

    Cara mengobati dan mencegah penyakit kencing manis dengan sistem Islam

    slam mempunyai suatu tata kehidupan dalam menjaga kesehatan dan Islam telah ribuan tahun yang lalu mengajarkan lewat Nabi Muhammad S.A.W yaitu lewat kebiasaan nabi dalam menjaga mengatur hidup sehat , Kencing manis telah menghantui miliaran orang sejak lama, mereka tidak mengetahui apa kencing manis itu atau diabetes. Kencing manis banyak dibicarakan lewat media massa secara gencar , promosi obat – obat untuk kencing manis telah banyak menjanjikan tetapi tidak nyata malah banyak kecewa.Kencing manis yaitu kurangnya/tidak adanya produksi Insulin dari tubuh untuk mengolah glukosa/gula istilah awam dalam tubuh agar menjadi energi yang dapat menunjang kekuatan tubuh.Berkurangnya Insulin dan bertumpuknya glukosa dalam tubuh menyebabkan pengaruh yang kuat terhadap tubuh dikarenakan gula terlalu menumpuk dalam tubuh dan akhirnya mempengaruhi kerja tubuh dan sering menimbulkan luka dibawah kaki karena pembuluh darah dikaki menyebabkan gaya gravitasi yaitu gula turun kepaling bawah dan akhirnya menyebabkan pembuluh darah tersebut tertumpuk oleh gula tadi dan akhirnya menjadi mati dan kalau dilihat hitam dan dibiarkan menjadi busuk.

    Nabi Muhammad telah mengisyaratkan hal tersebut bakal banyak terjadi dikarenakan faktor pola makan yang tidak karuan pada zaman sekarang, mereka terlalu lupa kontrol dalam menjaga pola makannya. Nabi mengatakan perut adalah sarang penyakit , dimana mereka yang terlalu lupa akan menjaga perutnya maka akan timbul banyak penyakit . Cara makan yang sopan tidak serakah telah diajarkan oleh Nabi Muhammad S.A.W dimana makanlah dengan tangan kanan dan kalau bisa makanlah dengan tiga jari.Mana mungkin makan dengan tiga jari kata orang, pastilah tidak puas dalam makannya, tetapi makan tiga jari dan mengunyah lebih lama kalau kita telaah secara ilmiah adalah sebagai berikut : Tiga jari untuk makan dalam melihatnya sangatlah sopan, pertama : tidak kelihatan serakah , kedua : makan dapat dibatasi dikarenakan dengan tiga jari akan lama dan otomatis kita makan akan secukupnya agar menghemat waktu, ketiga : makan dengan tiga jari jika kita lihat secara kedokteran rongga mulut agar mengeluarkan air liur yang sempurna agar makanan yang masuk kelambung dapat diolah dengan lebih mudah oleh asam lambung karena makanan telah lembut oleh kunyahan yang lama dan telah terselimuti oleh saliva atau air liur yang dimana makanan dapat jalan melewati oesophagus dengan lembut dan tidak berlebihan karena ukuran tiga jari sama dengan ukuran lubang oesophagus jika dilihat ,maka makanan jika masuk kelambung tidak akan memaksa dan tidak akan menyebabkan maag dikarenakan klep lambung tidak terlalu memaksa membuka untuk makanan dan juga makanan jika masuk kelambung akan tercerna oleh asam lambung lebih sempurna. Juga kita makan jangan setiap waktu , tapi tunggulah jika sudah lapar dan berhentilah sebelum kenyang dimana itu tadi akan merangsang pusat lapar dan pusat kenyang agar bekerja maksimal dalam memberitahukan waktunya anda lapar dan waktunya anda kenyang , jika kita makan seenaknya waktu ,dan makan sampai kenyang , maka pusat kenyang akan kacau dan kita akan merasa lapar padahal baru makan dan rasa kenyang akan hilang lebih cepat sehingga menyebabkan kerja tubuh terganggu dimana sari makanan yang belum terproses sempurna untuk dipakai tubuh bertabrakan dengan makanan baru sehingga akan menumpuk dalam bentuk lemak, cholesterol.

    Jadi cara untuk mengobati kencing manis ;
    • Jaga pola makan anda , makan diwaktu sangat lapar dan berhenti diwaktu sebelum kenyang.
    • Makanlah dengan tiga jari dan makan secukupnya
    • Jangan minum setelah makan paling tidak 1 jam , jika cegu’ken cukup sedikit air , karena biar lambung tidak bingung mengolah makanan karena air yang datang, jadi asam lambung akan keluar lebih banyak dan akan menimbulkan maag
    • Berjalanlah setelah makan , yaitu 10 menit setelah makan dengan jalan kaki 15 menit atau 1/2 jam.
    • Berpuasalah senin dan kamis agar melatih tubuh dan melatih insulin agar bekerja lagi
    • Jangan makan terlalu sering yang mengandung kalori tinggi sekali
    • Minumlah minyak zaitun untuk menjaga pembuluh darah agar sehat
    • Hindari gula, buah terlalu banyak dan perbanyak sayur mayur
    • Hindari penyedap makanan seperti masako , miwon , royco , sasa dan lain-lainya
    • Minumlah madu asli karena madu asli dapat membantu insulin keluar
    • Perbanyaklah ibadah sholat sunnah dan sholat malam
    • Minumlah obat nabi seperti Nigella Sativa /Habbatus Sauda’ secara teratur karena kandungan yang sangat lengkap untuk menjaga sistem tubuh dan dapat membantu keluarnya insulin dan menurunkan kadar gula dalam tubuh .
    • Berbekamlah karena bekam atau hijamah atau canduk setipa 3 bulan sekali yaitu mengeluarkan darah kotor dapat membuat badan sehat dan jauh dari penyakit dan juga disunnahkan.Berbekamlah kepada yang ahli dan mengerti kesterilan alat.
    sumber: http://web.kedokteranislam.com/?cat=94

    11% Penduduk Indonesia Berisiko Diabetes

    JAKARTA--Angka prevalensi penderita diabetes tanah air berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes) pada tahun 2008 mencapai 5,7% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 12 juta jiwa. Yang mengejutkan, angka prevalensi pre-diabetes mencapai dua kali lipatnya atau 11% dari total penduduk Indonesia. Berarti, jumlah penduduk indonesia yang terkena diabetes akan meningkat dua kali lipat dalam beberapa waktu mendatang.

    Fakta tersebut disampaikan DR. dr. Achmat Rudijianto, SpPD-KEMD, ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) dalam acara Peringatan Hari Diabetes Dunia yang berlangsung di Jakarta, Senin (9/11).

    Achmat juga mencatat, pada daerah seperti Papua Barat memiliki angka prevalensi diabetes terhitung kecil dari angka rata-rata diabetes nasional yaitu berada pada angka 1,7 % namun angka prevalensi prediabetes bisa mencapai 20 kali lipatnya atau sekitar 21.6%.

    "Kalau dibiarkan 12 juta penderita diabetes pada tahun 2010 akan meningkat 2 kali lipat atau menjadi 24 juta jiwa pada tahun 2030," tukasnya.

    Achmat menambahkan, 50% dari individu yang berada pada posisi pre-diabetes akan menderita diabetes. Terlebih angka individu pre-diabetes tertinggi berada pada rentang usia 12-17 tahun dengan prosentase 27%.

    "Umumnya faktor resiko penyebab pre-diabetes merupakan kegemukan dan gaya hidup. Apalagi remaja yang merupakan usia paling rentan. Mereka bukan lagi disebut anak-anak dan juga orang dewasa. Maka perhatian terhadap gaya hidup anak mutlak diperlukan," tegasnya.

    Oleh karena itu, masih menurut Achmat, fase pre-diabetes ini yang kemudian menjadi fokus Federasi Diabetes Internasional untuk mencegah meningkatnya jumlah angka penderita diabetes."Program edukasi perlu dijalankan sebagai solusi menekan angka prevalensi pre-diabetes sebelum mencapai fase diabetes," tegasnya.

    Pentingnya Edukasi

    Tindak pencegahan merupakan solusi efektif namun sering diacuhkan. Ibarat pepatah "Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu", keberadaan tindak pencegahan seolah menjadi angin lalu. Padahal,  biaya kesehatan yang dikeluarkan dapat ditekan ketika menjalankan langkah pencegahan.

    Namun, edukasi yang diperlukan bukanlah semacam seminar atau lebih lebih kepada teori. Diperlukan sebuah keseimbangan antara praktek dan teori guna menjadi kunci sukses menangkal perkembangan pre-diabetes menjadi diabetes.

    Menurut DR. Roy Panusunan SpPD-KEMD, ketua konsultasi diabetes RS Pantai Indah Kapuk, keberadaan edukator diakui sering dianggap remeh. Walau sebenarnya tidak semua individu pre-diabetes dan penderita diabetes memahami betul segala hal tentang diabetes. "Peran edukator memang terlihat sederhana tapi akan menjadi kompleks ketika mengintegrasikan diri dengan kultur masing-masing penderita diabetes," tukas Roy.

    Dia mencontohkan, bagaimana negara Naulu yang berada di tengah samudera pasifik menangani tingginya angka penderita diabetes. Negara tersebut hanya memiliki luas 21 kilometer persegi dengan populasi penduduk sekitar 13.000 jiwa. Guna mengangani masalah diabetes di wilayahnya, negara tersebut mewajibkan warganya untuk senantiasa membawakan tari tradisional negara tersebut secara rutin melalui panduan edukator.

    Dari contoh tersebut, kata Roy, bisa dijadikan panduan bahwa edukasi harusnya berbaur dengan kultur masyarakat. Dengan begitu program kesehatan untuk menekan laju penderita diabetes bisa dilakukan secara optimal. Adapun program yang disarankan meliputi pemberian seminar kesehatan, konsultasi gizi, perawatan kaki, senam diabetes secara rutin dan jalan kaki minimal 30 menit dalam sehari.

    "Program ini, apabila dilakukan secara terintegrasi, konsisten dan terpadu dapat menghasilkan manfaat yang maksimal. Minimal, pasien dengan sendirinya akan menikmati bahkan menjadikannya semacam gaya hidup yang baru, " tukasnya.

    Sering Bingung

    Sering kali, individu pre-diabetes merasa bingung untuk mencari informasi dan pencegahan yang tepat. Pada akhirnya, sebagian besar dari mereka melalui fase diabetes.

    Bong Lay Tjun misalnya, pria berusia 48 tahun ini merupakan satu dari sekian banyak individu pre-diabetes yang akhirnya menjadi diabetes lantaran minimnya informasi yang diketahui. Akibatnya, selama 18 tahun lebih, Tjun hidup dengan diabetes. "Saya bingung mau tanya kemana? Tanya ke orang yang bukan ahlinya malah tambah amburadul, " imbuhnya.

    Tjun, awalnya merupakan individu yang memiliki kebiasaan buruk mengkonsumsi kopi dengan memakai gula mencapai 3 sendok makan. Selain itu, Tjun juga gemar mengkonsumsi makanan apapun jauh melebihi jumlah kalori yang dibutuhkan. Maka tak heran, saat dicek gula darahnya, kandungan gula dalam darah Tjun mencapai angka 300 dan 400 dengan A1C yang mencapai angka 8.

    Tjun akhirnya mengikuti program edukasi "Pandu Diabetes" yang dijalankan Rumah sakit Pantai Indah Kapuk. Berkat program tersebut, Tjun kini tak lagi bergantung pada obat-obatan.

    "Edukasi itu memberitahu hal-hal yang kami tidak tahu. Seperti misal, bagaimana kami menjaga pola makan dan melakukan senam secara rutin. Edukasi juga menghindarkan saya dari stres karena larangan-larangan yang berasal dari orang-orang yang tak memahami benar diabetes," tukasnya.

    Tjun mengarisbawahi, pelaksanaan program edukasi akan berhasil apabila diikuti mind set yang kuat untuk sembut dari diabetes. Masalah mind set ini yang dianggap Tjun merupakan hal yang terberat dan tersulit.  "Saya kira, bantuan dan dukungan orang-orang terdekat akan menjadikan segala sesuatu jauh lebih mudah," tukasnya.

    Hal itu, juga dibenarkan oleh Dr. Roy. Menurut dia, masalah kultur dan pola pikir merupakan hal yang terkait. Bedanya, pola pikir terbentuk dari lingkungan atau kultur. Bila lingkungan atau kultur memahami betul masalah diabetes maka akan berimplikasi pada pola pikir.

    "Perubahan pola pikir memang hal tersulit karena menyangkut penanaman nilai-nilai pendidikan dari awal," tegasnya. Maka dari itu,  tambahnya, persoalan pola pikir memerlukan proses yang panjang dan perlu dukungan dari dalam diri pasien dan keluarganya. cr2/rin . sumber: http://republika.co.id

    Terlalu Lama Nonton TV Bisa Terkena Diabetes

    Nonton TV berjam-jam? ah itu sudah biasa. Ketika lagi santai di rumah, atau lelah sehabis pulang bekerja, maka nonton TV adalah hiburan gratis paling menyenangkan. Eit! tapi jangan salah, nonton TV terlalu lama ternyata bisa menyebabkan penyakit. Apa itu?

    Sebuah penelitian di negeri Paman Sam menyimpulkan, orang yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi memiliki risiko lebih besar untuk meninggal atau terserang diabetes dan penyakit jantung. Waduh! Bahkan efek itu lebih jelas lagi bagi orang yang dua jam menonton televisi sehari.

    Setiap hari, penduduk AS menghabiskan waktu rata-rata 5 jam menonton televisi, sementara orang Australia dan beberapa orang Eropa 3,5 hingga 4 jam sehari. Angka itu disampaikan pemimpin penelitian Frank Hu dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Harvard.

    "Pesan ini sederhana. Mengurangi waktu menonton TV adalah cara penting untuk mengurangi kebiasaan duduk terus menerus, dan mengurangi risiko diabetes dan penyakit jantung," kata Hu seperti dikutip Reuters.

    Duduk berlama-lama di depan TV tidak hanya menyebabkan kita menjadi kurang berolah raga, tapi juga cenderung menyantap makanan tidak sehat. "Kombinasi gaya hidup banyak duduk, pola makan tidak sehat dan obesitas menciptakan 'daerah pembiakan sempurna untuk diabetes tipe 2 dan penyakit jantung." jelas Hu.

    Untuk keperluan penelitian ini, Hu dan timnya meninjau 8 penelitian yang memeriksa kaitan antara waktu menonton televisi dan penyakit. Penelitian yang dipublikasikan dalam "Journal of the American Medical Association" itu mengikutkan lebih dari 200.000 orang, dalam jangka waktu 7 hingga 10 tahun.

    Hu dan para koleganya menemukan bahwa untuk setiap dua jam sehari menonton televisi, risiko diabetes meningkat 20 persen, sementara risiko penyakit jantung naik 15 persen. Setiap dua jam menonton televisi per hari meningkatkan risiko kematian sebanyak 13 persen.

    Berdasarkan hasil-hasil itu, Hu dan timnya memperkirakan bahwa di antara sekelompok 100.000 orang, mengurangi waktu menonton televisi sehari-hari selama 2 jam bisa mencegah 176 kasus baru diabetes, 38 kasus penyakit kardiovaskuler fatal, dan 104 kematian dini, setiap tahun.

    Semua penelitian dalam analisis itu memastikan bahwa para partisipan tidak memiliki penyakit kronis, karena orang-orang yang umumnya kurang baik bisa lebih cenderung menonton televisi berjam-jam dan menderita diabetes, penyakit jantung atau kematian dini.

    Tetapi, Hu dan timnya memperingatkan bahwa kemungkinan beberapa orang membentuk penyakit tak terlacak pada awal penelitian dapat mempengaruhi penemuan. Penelitian tidak bisa membuktikan bahwa menonton TV sendirian meningkatkan risiko penyakit, selain itu juga tidak bisa mengenali bagaimana menonton TV bisa memiliki pengaruh.

    "Itu benar bila orang-orang yang banyak menonton TV berbeda dari mereka yang menonton dalam waktu lebih sedikit, terutama dalam hal pola makan dan tingkat kegiatan fisik," kata Hu.

    Dia menambahkan, orang-orang yang banyak menonton televisi lebih cenderung menyantap makanan tidak higienis. Tetapi, pola makan tidak sehat dan kemalasan juga akibat dari menonton televisi berkepanjangan. Jadi penelitian itu beberapa pengaruh merugikan dari kebiasaan duduk berjam-jam.

    Ini bukan penelitian pertama yang menghubungkan waktu menonton TV dengan pengaruh penyakit. Salah satunya laporan yang terbit pada 2007 yang menemukan bahwa waktu menonton TV berhubungan dengan tekanan darah tinggi dalam obesitas anak-anak.

    Penelitian yang sama juga menemukan bahwa anak-anak yang kelebihan berat badan karena menyantap makan lebih banyak setelah menonton iklan makanan. (ANT/MLA)
    sumber: Liputan6.com
     

    Waspadai Diabetes Tipe I Pada Anak

    Diabetes tipe satu biasa disebut diabetes yang bergantung pada insulin, atau diabetes juvenil, yang diderita oleh anak-anak dan remaja. Lebih jarang ditemukan ditemukan dibandingkan dengan diabetes tipe dua.Diabetes tipe satu disebabkan karena faktor genetis dan faktor penyebab lainnya. Diabetes tipe satu sering muncul tiba-tiba pada masa anak-anak (dibawah usia 20 tahun), dengan gejala-gejala tertentu. Seperti, turunnya berat badan secara drastis, mudah lelah, sering buang air kecil, dan sering merasa lapar atau haus.
    Penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan pesatnya pertumbuhan penyakit diabetes tipe satu di dunia. Ada beberapa faktor risiko diabetes tipe satu :
    1. Riwayat kesehatan kleluarga dengan diabetes tipe satu. Namun, 80 % penderita diabetes tipe satu tidak memiliki riwayat kesehatan keluarga dnegan diabetes tipe satu.
    2. Infeksi virus, gondongan atau sampak, bisa menyebabkan reaksi imun dan bisa menghancurkan sel-sel yang memproduksi insulin.
    3. Infeksi virus pada masa kehamilan bisa meningkatkan risiko anak terkena diabetes tipe satu. Lebih dari 20 % anak-anak terkena infeksi sewaktu berada dalam rahim (tertular dari infeksi pada ibunya), akan terkena diabetes tipe satu dalam 5 sampai 20 tahun mendatang.
    Cara mendiagnosa diabetes tipe satu adalah dengan memeriksakan kadar gula dalam darah, dibarengi dengan adanya keton dalam urin. Hal ini cukup dilakukan untuk mengetahui dan memastikan apakah sesorang mengidap diabetes tipe satu atau tidak.
    Penderita diabetes tipe satu harus menghindari kadar gula yang melewati batas normal, baik itu terlalu rendah ataupun terlalu tinggi, hiperglikemia dan hipoglikemia, karena keduanya dapat berakibat fatal. Hiperglikemia dapat menebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil, dan akan menghakibatkan kerusakan permanen jika tidak diberi tindakan secepatnya. Sedangkan hipoglikemia menyebabkan hilangnya kesadaran.

    sumber: www.mediaindonesia.com
     

    SEHAT ITU KARUNIA

    Subhanalloh, kesehatan itu karunia ke dua terbesar dalam hidup ini. Iman menduduki rangking ke satu karunia dari Alloh. Betapa hebatnya kalau dua karunia ini bersanding bersama dalam diri seseorang.Ibadah hebat didukung oleh kesehatan yang prima. Betapa seseorang ini akan menjadi orang yang mulia disisi tuhan apalagi disisi manusia.Hidup laksana di surga, sangat nikmat tidak takut apapun kecuali kepada Alloh yang telah mengkaruniakan keduanya.

    Betapa banyak orang kaya raya hidupnya, semua yang dibutuhkan dengan sangat mudah didapat. Dan hanya mengerakkan tangannya saja semua sudah terhidang di depannya. Tetapi diantara manusia seperti kadang kita temui sangat kering iman di hatinya.Hidup tidak tahu arah. Kaya, istri, anak, jabatan sudah melebihi cukup. Betapa mereka tidak memikirkan hidup setelah hidup ini.Tentu mereka nanti akan menyesal  diakherat nanti. Padahal hidup diduni ini sangat sebentar dan tak sebanding dengan kehidupan akherat nanti.

    Kesehatan, betapa banyak orang terjebak. Banyak diantara kita lebih takut sakit dari pada takut kepada Alloh. Waktu sholat dibuat olah raga sampai waktu habis.Mandi berlama-lama takut kulitnya terkena penyakit kulit padahal kumandang adzan sudah bergema. Dan masih banyak kegiatan yang tidak ada nilai tetapi yang ada nilai besar ditinggal.Dan itulah kita sering melakukan pekerjaan itu dengan senang hati tetapi kalau diminta mengerjakan ibadah hampir rasa tertekan.

    Hal diatas semoga tidak terjadi pada kita. Karunia iman dan kesehatan semoga selalu bersanding dalam hidup kita. Yah, walau kita yakin kadang iman kita berada dibawah tetapi jangan sampai lupa kalau iman sedang berada dibawah secepatnya bangkit dan obati agar iman itu kembali ke posisi semula dan lebih naik lagi.Kalau kesehatan menurun secpatnya cek pada yang punya ilmu tentang kesehatan semoga sakit itu tidak berlama-lama menunggui tubuh kita. Ya alloh berilah kesehatan pada tubuh ini, ya alloh berilah kesehatan pada mata ini, ya alloh berilah kesehatan pada pendengaran ini, dan tidak ada tuhan selain Engkau.